KELUHAN BARCA DAN EVOLUSI TEKNOLOGI GARIS GAWANG

Barcelona hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Real Betis di Stadion Benito Villamarin, Minggu (29/1). Sebuah hasil yang bisa mengubah regulasi di ajang La Liga.

Sebuah umpan silang Aleix Vidal dari sisi kanan berhasil diteruskan Jordi Alba dengan sontekan pada menit ke-77. Bola hasil sontekan Alba sebenarnya melewati garis gawang hingga hampir satu meter sebelum dibuang Aissa Mandi.

Wasit Alejandro Hernandez tidak menganggapnya sebagai gol dan pertandingan berlanjut. Protes para pemain Barcelona tidak digubris Hernandez. Beruntung bagi Azulgrana, mereka mampu menyamakan kedudukan lewat gol telat Luis Suarez.

Usai pertandingan pelatih Barcelona Luis Enrique mengungkapkan keluhannya terkait tidak adanya teknologi garis gawang di ajang La Liga. Andai La Liga menggunakan teknologi tersebut, maka Barcelona saat ini hanya terpaut satu poin dari Real Madrid di puncak klasemen.

Cukup aneh memang, sebagai salah satu liga terbaik di Eropa, La Liga masih belum menggunakan teknologi garis gawang. Padahal Liga Primer, Serie A, Bundesliga, Ligue 1, Eredivisie, bahkan pertandingan Piala Portugal, sudah menggunakan teknologi tersebut.

Perlu diingat, La Liga adalah tempat di mana dua pesepakbola terbaik di dunia saat ini berada: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Klub-klub Spanyol juga mendominasi pentas Liga Champions dan Liga Europa dalam tiga musim terakhir.

Bos La Liga, Javier Tebas, sebelumnya mengatakan pihaknya tidak akan menggunakan teknologi garis gawang karena harganya yang sangat mahal. Untuk kontrak tiga tahun, biaya teknologi garis gawang mencapai 420 ribu poundsterling (setara Rp7 miliar) per satu stadion.

Apa yang menimpa Barcelona di Stadion Benito Villamarin bisa mengubah pendirian Tebas dan pihak La Liga. Pasalnya, berdasarkan pengalaman di pentas Serie A dan Bundesliga, dibutuhkan keluhan sebuah klub besar sebelum akhirnya teknologi garis gawang digunakan.

Di Serie A, AC Milan menjadi klub besar Italia yang paling gencar mendesak Asosiasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menggunakan teknologi garis gawang. Pasalnya, I Rossoneri paling sering dirugikan dengan ‘gol hantu’, termasuk ketika melawan Juventus pada 2012 dan Udinese pada 2014.

Setelah terus mendapat tekanan, FIGC akhirnya menerapkan teknologi garis gawang di Serie A mulai 2015. Kasus serupa terjadi di Bundesliga. Adalah Bayern Munich yang menekan German Football League (DFL) menggunakan teknologi garis gawang mulai 2015.

Menariknya, Bayern mengirim petisi ke DFL untuk menggunakan teknologi garis gawang setelah rival mereka, Borussia Dortmund, dirugikan ketika melawan Die Roten pada final DFB Pokal 2014. Ketika itu ‘gol hantu’ Mats Hummels tidak disahkan wasit.

Sejumlah pengalaman di atas membuat La Liga berpeluang menggunakan teknologi garis gawang dalam waktu dekat. Terutama jika hasil di markas Real Betis akan mempengaruhi klasemen akhir La Liga musim ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *